CENTRAL UNGGAS LAMPUNG

  • Central Unggas Lampung
  • Central Unggas Lampung
  • Central Unggas Lampung
  • Central Unggas Lampung
  • Central Unggas Lampung
  • Central Unggas Lampung
  • Central Unggas Lampung
  • Central Unggas Lampung

Profil

Foto saya
Bandar Lampung, Lampung, Indonesia
Menyediakan DOC ayam Kampung dan ayam Kampung ukuran 8 ons - 1 kg
Tampilkan postingan dengan label Ayam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayam. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2011

Menghasilkan DOC Berkualitas Prima

DOC yang berkualitas prima akan memberikan banyak keuntungan, dalam hal ini kepuasan hati menjadi prioritas. Tidak hanya karyawan di hatchery saja, tetapi karyawan farm akan merasa senang apabila mendapatkan DOC yang berkualitas prima.


Beberapa keuntungan yang didapat apabila kita memelihara DOC dengan kualias prima di antaranya daya hidup tinggi, karena performance yang prima akan menghasilkan daya tahan yang optimal, feed konversi lebih baik, dan pertambuhan berat badan yang lebih baik. Dengan ketiga aspek tersebut, untuk broiler komersial akan berdampak terhadap nilai jual, biaya pakan akan lebih rendah, dan panen akan sesuai target. Sedangkan untuk breeding dan layer performance pullet yang optimal akan menghasilkan periode produksi yang maksimal.

Secara umum DOC yang berkualitas prima dapat didefinisikan sebagai anak ayam yang berpotensi mempunyai peformance terbaik seperti yang telah disebutkan diatas.

Ada dua hal yang bisa kita tentukan dalam mengukur kualitas DOC yaitu secara kuantitatif dan secara kualitatif. Untuk pengukuran secara kuantitatif, kualitas DOC dapat diukur dari berat saat setelah menetas, panjang anak ayam, berat sisa kuning telur (yolk) dan lain-lain. Untuk pengukuran qualitatif secara umum yakni bersih, kering, bebas dari kotoran dan kontaminasi, mata jernih dan berbinar, bebas dari cacat, pusar menutup lengkap dan bersih , tidak ada sisa kuning telur pada area pusar.

Tubuh kuat terhadap sentuhan, tanpa ada tanda-tanda stress seperti panting, tanggap dan tertarik pada kondisi lingkungan, respon terhadap suara, konformasi normal dari kaki, tidak ada merah (hock) dikaki, tidak ada pembengkakan, tidak ada luka dikulit, paruh normal, tidak lembek dan kuku kuat,. Pengukuran kuantitatif bisa diukur dengan timbangan, penggaris dan lain-lain. Untuk pengukuran kualitatif perlu standarisasi –kalau tidak akan bersifat subjektif-- seperti menggunakan pasgar score dengan nilai 0–10 dan Tona score dengan nilai 0-100.

Penanganan telur tetas

Untuk mendapatkan DOC dengan kualitas prima juga diperlukan adanya penanganan terhadap telur selama di hatchery. Beberapa penanganan tersebut di antaranya :

1. Grading
Tujuan dilakukannya grading yakni untuk mendapatkan dan menginkubasi telur yang berkualitas baik dengan beberapa cara. Pertama, afkir dan buang telur yang tidak sesuai standar untuk ditetaskan. Telur yang tidak sesuai dengan standar yakni kotor, retak, kecil (sesuai standar berat HE), sangat besar atau double yolk, kerabang yang jelek, serta bentuknya tidak bagus.

Kedua, simpan telur secara hati-hati ke dalam setter tray atau tray transportasi dimana ujung yang tumpul berada di atas. Ketiga, berhati-hatilah selama proses grading, selama awal produksi periksa berat dan seleksi hatching eggnya. Keempat, simpan di ruangan terpisah dimana temperature dan kelembaban dikontrol. Kelima, jaga ruang penanganan telur dalam keadaaan bersih dan nyaman. Kontrol kutu di ruangan telur dengan cara pisahkan atau tolak telur kotor dan buggy dari hatchery.

2. Fumigasi
Tujuan dilakukan fumigasi yakni menghilangkan atau mengurangi kontaminan yang menempel pada permukaan telur agar tidak terjadi penetrasi kedalam telur baik jamur maupun bakteri. Fumigasi dilakukan harus sesuai dengan dosis yang dibutuhkan, contoh : single, double, dan seterusnya.

3. Penyimpanan Telur
Menyimpan dan mengoleksi telur agar sesuai dengan kebutuhan mesin atau permintaan dengan menjaga kualitas telur tetas dengan kondisi ideal sesuai lama penyimpanan.

Mekanisme yang menyebabkan turunnya hasil penyimpanan adalah sampai hari ini masih belum jelas, umumnya diketahui bahwa viskositas albumen (tingginya albumen) menurun dan pH albumen meningkat selama penyimpanan.

Perubahan dalam albumen tidak sesederhana yang digambar untuk kualitas hatching egg dalam menghasilkan DOC yang berkualitas prima. Kualitas telur terbaik terjadi pada saat hari dikeluarkan dari induk dan berubah dalam kekentalan albumen dan pH yang terjadi terutama selama 4 hari. Bagaimanapun, hatchability tertinggi diproduksi dari telur yang disimpan selama 1-2 hari, dan dari telur yang optimal kualitas albumennya.

Pengaruh hatchability dan quality
Meskipun praktek di hatchery penyimpanan akan rusak setelah lama penyimpanan lebih dari 7 hari, efek negatif harus dihindari dari hari kedua dan seterusnya. A Norwegian mempelajari (2001) pada hasil hatchability dari 112 flok Ross komersial 208 diungkap bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi hatchability adalah preinkubasi penyimpanan telur. persentasi hatchability menunjukkan penurunan linear menurun dari hari kedua dan seterusnya. Dimana telah diperkirakan 0,7% perhari setiap penambahan penyimpanan.

Umur induk
Dimana terdapat pilihan, telur dari induk muda harus disimpan dibanding yang tua, menurunnya dalam hatchability setelah penyimpanan lebih besar pada telur yang lebih tua induknya.

Suhu penyimpanan
Setelah oviposisi, suhu dalam telur secara bertahap turun dibawah fisiological zero yaitu suhu minimum dimana embrio akan tumbuh kalau suhunya diatas fisiological zero. Suhu dibawah point ini mempengaruhi karakteristik telur lain oleh karena itu akan mempengaruhi kualitas telur tergantung dari durasi penyimpanan.

Ketika telur disetting disimpan sampai 3 hari suhu harus 18-210 C. Dengan periode penyimpanan 4-7 hari, telur harus disimpan antara 15-180 C. Ketika penyimpanan sampai 7 hari suhu harus 10-120 C.

Turning telur
Penelitian telah mengungkap bahwa turning telur dapat memperbaiki hatchability setelah penyimpanan preinkubasi. Dimana banyak data yang diteliti menyarankan bahwa metode ini hanya berguna untuk penyimpanan yang lama, hasil terbaru (2002) menggunakan telur ross 308 mengindikasikan bahwa turning telur 4 kali perhari dibutuhkan untuk periode penyimpanan 7 hari.

Perlakuan preinkubasi
Penilitian telah mengindikasikan bahwa prewarming yang segera sebelum memulai inkubasi dapat mengurangi turunnya hatchability setelah penyimpanan. Selama periode prewarming ini komponen suhu bervariasi pada telur menjadi homogen sebelum awal inkubasi , yang mana terlihat menyebabkan lebih seragamnya perkembangan awal embrio. Dalam penelitian ini, telur di hangatkan pada suhu 20-250 C untuk beberapa jam (5-16 jam) sebelum inkubasi. Bagaimanapun, dampaknya hanya akan tampak setelah penyimpanan yang lama. (lebih dari 14 hari).

Suhu inkubasi
Hasil terbaru dari penelitian pada telur kalkun mendemontrasikan dampak positip pada meningkatnya suhu selama minggu pertama dan kedua di inkubasi pada daya tetas telur yang disimpan. efek pada perlakuan suhu inkubasi pada telur broiler secara langsung di R & D. Pengukuran sebelumnya menyebutkan alat yang memudahkan untuk menurunkan hilangnya hatchability dan chick quality setelah penyimpanan pre inkubasi. Ditambah lagi, ada beberapa metode yang terbukti efektif dalam kondisi experimen tapi sulit diaplikasikan di hatchery .

Posisi telur
Dampak positip pada penympanan telur yang disimpan dengan posisi runcing diatas telah di tunjukkan terdahulu. Dengan cara ini posisi sentral kuning telur (dan embryo) terjaga selama penyimpanan. Di posisi ini, embrio terlihat lebih terlindungi dari dehidrasi dan adhesi pada membran, yang mana hasilnya lebih baik dalam bertahan selama penyimpanan.

Perlakuan pre warming di farm
Pemanasan sederhana telur yang segera setelah ovoposisi sebelum penyimpanan menunjukan mengurangi hilangnya hatchability yang disebabkan penyimpanan. Perlakuan ini memperlihatkan kemajuan perkembangan embrio pada tahap yang mana lebih baik dapat bertahan di periode penyimpanan. Penelitian terbaru 2001 menggunakan telur breeder komersial, pre warming HE pada suhu 37.5 C untuk periode 6 jam meningkatkan hatchability yang disimpan relatif untuk kelompok kontrol. Bagaimanapun peningkatan hanya menunjukkan pada telur yang disimpan 14 hari. Pada telur yang disimpan untuk 4 hari tidak ada pengaruh setelah diteliti. Metode ini terlihat sedikit cocok untuk telur dari kandang tua, pada saat telur mengandung embryo yang siap kemajuan lebih ketahap pada saat ovoposisi.

Ditulis oleh : Sandi Galih Purnama, S.Pt., Hatchery Manager. CV Intan Jaya Abadi, Sukabumi Jawa Barat.

Source : http://www.poultryindonesia.com~~
[ ... ]

Jumat, 16 April 2010

ANALISA BUDIDAYA AYAM KAMPUNG

Untuk mengetahui berapa besar modal yang harus diinvestasi dalam usaha pemeliharaan ayam kampung dan berapa jumlah keuntungan yang diperoleh, maka dibawah ini penulis mencoba membuat perhitungan berdasarkan catatan harian pengeluaran seorang peternak. Ukuran kandang panjang 8 meter lebar 2,5 meter dan tinggi 3 meter. Ukuran pagar keliling, panjang 18 meter, lebar 10 meter dan tinggi 2,7 meter.

Kandang tersebut digunakan untuk memelihara 155 ekor ayam muda yang terdiri dari 150 ekor ayam betina dan 5 ekor jantan dengan umur rata-rata 4 bulan. Ayam-ayam tersebut dibeli dengan Rp 9.000,00/ekor. Porsi pakan 100 gr /ekor/hari, pada bulan ke dua dan ke tiga porsi pakan di naikkan masing-masing sebesar 20%dan 25%.

Di bulan ke empat dari masa pemeliharaan ayam–ayam tersebut telah mulai bertelur, dengan jumlah rata-rata 14 butir per periodenya. Untuk meningkatkan jumlah produksi telor, sengaja peternak menerapkan metode siklus reproduksi, yaitu dengan jalan :

1. memisahkan induk dari telurnya dengan hanya satu butir telor pada sarangannya .

2. pada induk–induk yang mulai memperlihatkan tanda-tanda mengeram secepatnya di mandikan

Dari kedua perlakuan diatas maka ditahun satu masa produksinya dapat diatur sebanyak lima kali .

Pada bulan ke 7 dari keseluruhan produksi telor 10% dieramkan sedangkan sisanya dijual. Untuk tugas pengeraman sengaja digunakan untuk ayam sebanyak 20 ekor, sehingga pada bulan ke delapan terjadi penurunan produksi telur .

Setelah menetas induk dan DOC dipisah, kemudian induk dimandikan. Pada bulan ke sembilan produksi telur mulai meningkat. Dalam produksi ayam kampung ini yang perlu di ketahui adalah :

- Fertilitas =96%

-Daya tetas =90 %

-Kematian = 3%

-Umur Penetasan 21 hari

-Pemberian faksin dilakukan sebanyak 4 kali selama pemeliharaan.

DOC setelah dipisah dari induknya ditempatkan dalam kotak dos beralaskan sekam padi yang di campur sedikit kapur, tanpa diberi bantuan induk buatan (Listrik lampu minyak) sedang sebagai sumber penghangat DOC akan memperoleh dari panas tubunya sendiri. Pada pemeliharaan ditahun kedua siklus reproduksi pertahunya diatur sebanyak 11 kali, dengan demikian diharapkan pada peningkatan dalam jumlah produksi (telur) selain itu pada pemeliharaan ini ada tambahan populasi ayam sebanyak 175 ekor betina dan 8 ekor pejantan. Untuk menghindarkan terjadinya “kanibalisme” oleh ayam yang lebih kuat, maka dibuat kandang baru. Dibulan kelima ayam-ayam tersebut sudah mulai bertelur, dengan demikian ada kenaikan dalam jumlah produksi telur. Dari jumlah produk perharinya, resiko pecah atau retak diperhitungkan sebanyak 6 butir atau 180 per bulan (angka rata-rata), dan ini oleh peternak dimanfaatkan untuk lauk. Sehingga total keseluruhan yang dikomsumsi adalah 17x180 butir=30.60 butir, sedang yang dijual sebanyak 49.300 butir dengan harga 850.

A. Pemberian Pakan

1.Untuk ayam muda –dewasa, 100 gr /ekor/hari

Jumlah pakan per hari untuk 155 ekor =(100x 155) kg: 1000 = 15,5 kg.

Jumlah pakan bulan I = 30x15,5 kg = 465 kg

Jumlah pakan bulan II= (0,2x465 kg)+465 kg = 558 kg

Jumlah pakan bulan III= (0,25x558kg)+558kg = 697,5 kg

Jumlan pakan bulan IV – umur 2 tahun = 17x697,5 kg =11.857,5 kg

Total pemberian pakan =13,578 kg

2. Untuk DOC 60 gr/ekor/hari, sampai umur 3 bulan

Jumlah pakan untuk 189 DOC (189 x 60)kg :1000 = 11,34 kg

Jumlah pakan bulan I 30 x 11,34kg = 340,20 kg

Jumlah pakan bulan II(mortalitas 3%)(0,15x60)+60x183 x30x1kg = 378,81 kg

1000

jumlah pakan bulan III (0,15x378,81kg)+378,81kg = 435,63 kg

Total pemberian pakan = 1.154,64 kg

3. Untuk ayam muda –dewasa, 100gr/ekor/hari

Jumlah pakan per hari untuk 183 ekor (100x183)kg: 1000 = 18,3 kg

Jumlah pakan bulan I =30x18,3 = 549 kg

Jumlah pakan bulan II =(0,2x549)kg+549kg = 658,8kg

Jumlah pakan bulan III =(0,25x658,8)kg+658,8kg = 823,5kg

Jumlah pakan bluan IV –bulan keXI = 10x823,5kg = 8.235 kg

Total pemberian pakan = 10.266,3kg

B. Analisa Biaya

1. Input

a. Biaya Infestasi

-Pembuatan kandang tahun 1 = Rp.35.000,00

-Pembuatan kandang dan Box tahun 11 =Rp.40.000,00

-Pembuatan pagar keliling =Rp.125.000,00

Total biaya investasi =Rp.200.000,00 (1)

b. Biaya Operasi

-Pembelian 155 ekor ayam=155xRp900,00 =Rp.139.500,00

-Pembelian untuk 155 ekor ayam=13.578xRp120,00 =Rp.1.29.360,00

-Pembelian pakan untuk 189 DOC sampai umur 3 bulan =1.154,64xRp.120,00 = Rp.138.556,80

-Pembelian pakan untuk 183 ekor ayam=Rp.10.266,3x120,00

=Rp.1.231.956,00 +

Total pembelian pakan =Rp.2.999.872,80

-Biaya vaksin dan obat cacing untuk ayam muda dan dewasa =Rp.3.000 ,00

-Biaya vaksin dan obat cacing/DOC =Rp.1.000 ,00

Total biaya operasi =Rp.139.500,00 + Rp.2.999.872,80 + Rp 4000,00

=Rp.3.143.372,80

c. Penyusutan dan Perbaikan

-Penyusutan kandang 1 tahun =Rp.2.500,00

-Penyusutan pagar 1 tahun =Rp.3.000.00

-Perbaikan kandang 1 tahun =Rp. 4.000,00

` -Perbaikan kandang 1 tahun =Rp. 5000,00

Total =Rp. 14.50000

2.Output

-Penjualan telur selama pemeliharaan= 49.300xRp850,00=Rp 41 905.000,00

-Penjualan ayam afkir @Rp40.000,00 =Rp 6.200.000,00

- Penjualan dari telur yang dikomsumsi =3060x500=Rp 1.530.000,00

Total Rp 49.635.000,00

C. Keuntungan Yang Diperoleh

Rp 49.635.000,00 – Rp25.034.099.00 = 24.600.001,00

Rp24.600.001,00 : 20bln = Rp 1.230.000,00 /bln



source : kampoengpetek.blogspot.com
[ ... ]

INSEMINASI BUATAN PADA AYAM BURAS

Ayam buras sudah dikenal masyarakat Indonesia dan penyebarannyapun telah
merata terutama di pedesaan. Karena perawatannya mudah, daya tahan hidupnya cukup
tinggi, adaptasi dengan lingkungan dan makanan mudah serta lebih digemari masyarakat
karena baik daging maupun telurnya memiliki cita rasa yang lebih disukai dibandingkan
ayam ras.
Pengembangan ayam buras saat ini sudah diarahkan sebagai penghasil daging
dan telur konsumsi, meskipun mengalami berbagai kendala, antara lain : rendahnya
produksi, terbatasnya managemen pemeliharaan, dan tingginya variasi genetik antar ayam
itu sendiri.
Menurut data dari Ditjen Peternakan tahun 1995, peternak ayam buras di wilayah
DKI Jakarta pada tahun 1994 menghasilkan daging 240 ton pertahun atau setara dengan
240.000 ekor pertahun atau 20.000 ekor perhari, dan telur 900 ton pertahun. Pada tahun
1990 - 1994 terjadi penurunan produksi daging dan telur ayam buras masing-masing
15,11 % - 16,04% pertahun yang antara lain disebabkan oleh penurunan populasi ayam
buras yang mencapai 15,24% pertahun. Pada saat yang sama, permintaan pasar
terhadap komoditas hasil ternak ayam buras selalu meningkat.
Kebutuhan telur dan daging ayam buras untuk DKI Jakarta dengan jumlah yang
sangat besar sampai saat ini sebagian besar masih dipasok dari daerah sekitarnya,
seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Lampung. Hal ini karena pengernbangan ayam
buras di DKI Jakarta mengalami kendala khususnya areal pemeliharaan yang terbatas dan
jumlah penduduk yang sangat padat. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan teknologi
usaha peternakan yang tepat guna untuk petani dengan pemilikan lahan terbatas yaitu
dengan cara mengandangkannya pada kandang sistem batere seperti dilakukan pada
ayam ras petelur. Cara ini sudah terbukti mampu meningkatkan produksi telur sesuai
dengan kondisi di DKI Jakarta.
Untuk usaha yang diarahkan sebagai ayam buras pedaging, teknologi tersebut
masih mengalami berbagai kendala seperti sulitnya menghasilkan anak ayam (DOC)
dalam jumlah banyak dan seragam dengan waktu yang relatif singkat. Kualitas semen dan
fertilitas semen ayam buras yang dihasilkan ditingkat peternak cukup balk, namun angka
kematian embrio dan scat periode indukan yang masih tinggi (20 - 44%) akan mengurangi
arti pejantan dan merupakan bukti bahwa pengelolaannya perlu diperbaiki. Masalah ini
dapat diatasi dengan teknologi Inseminasi Buatan yang dipadukan dengan pemeliharaan
sistem batere, sehingga akan dihasilkan telur tetas dalam jumlah banyak dan dalam waktu
yang lebih singkat dibandingkan kawin alarm pada sistem kolom. Hasil penelitian tentang
Inseminasi Buatan pada ayam buras menunjukkan bahwa pengenceran semen dengan
NaCl 0,9%; dosis 0,1 ml semen encer dapat menghasilkan daya tunas 56,48%.

Selengkapnya Download Disini . . . . .
[ ... ]

Jumat, 09 April 2010

AGROINDUSTRI AYAM YANG TETAP KAMPUNG



Pada awal tahun 1970an, harga daging dan telur ayam ras (ayam negeri), lebih mahal daripada harga daging dan telur ayam kampung. Sebab populasi ayam ras pedaging maupun petelur masih sangat kecil. Waktu itu menggoreng telur atau memasak daging ayam ras, merupakan sesuatu yang sangat prestisius. Sebab untuk kondisi sosial ekonomi saat itu, makan telur dan daging ayam bagi masayarakat menengah bawah, masih merupakan hal yang sangat mewah. Lauk utama di warung tegal (warteg), saat itu hanyalah tahu dan tempe. Kalau saja ada ikan, maka bisa dipastikan ikan laut atau tambak air payau. Misalnya kembung atau bandeng. Sekarang, harga telur dan daging ayam kampung (ayam bukan ras = ayam buras); jauh lebih mahal dibanding dengan harga telur dan daging ayam ras. Kalau harga ayam ras per ekor @ 1,5 kg. Rp 15.000,- maka harga ayam kampung dengan bobot sama sudah sekitar Rp 25.000,- di tingkat konsumen. Kalau harga telur ayam ras di tingkat konsumen Rp 6.000,- per kg. isi 18 butir (bobot @ 55 gram) atau per butir Rp 333,- maka harga telur ayam kampung mencapai Rp 1.100,- per butir. Tingginya harga telur dan ayam kampung hidup, telah mengilhami para petarnak untuk mengambil jalan pintas.

Cara untuk memacu produktivitas ayam kampung adalah, dengan menerapkan teknologi peternakan ayam ras, baik broiller maupun petelur. Ada yang menerapkan teknologi ini secara penuh, ada pula yang hanya sebagian. Pada produksi ayam pedaging, peternakan dibagi menjadi tiga. Pertama pemeliharaan induk (produksi telur) dalam kandang ren dan penetasan (dengan mesin tetas) serta pemeliharaan DOC dengan indukan (pemanas). Kedua, Pemeliharaan anak ayam pasca indukan, sd. umur 2 bulan. Ketiga, pembesaran ayam konsumsi dan calon induk. Tiga tahap pemeliharaan inilah yang dilakukan sepenuhnya atau sebagian dengan teknologi dan pakan broiller. Pada produksi telur konsumsi, induk betina ayam kampung dipelihara dalam kandang batery (1 ekor induk 1 kandang seukuran tubuhnya), dan diberi pakan layer (pakan khusus petelur). Hasilnya, berupa telur ayam kampung, tetapi produktivitasnya sangat tinggi. Namun pola pemeliharaan ayam ras yang diterapkan pada ayam kampung ini, telah menurunkan harga ayam hidupmaupun telurnya. Dengan penerapan teknologi ayam ras 100%, harga ayam potong dan telurnya hanya sedikit diatas harga daging dan telur ayam ras. Dengan penerapan sebagian teknologi ayam ras, maka harga produknya bisa lebih tinggilagi, namun tetap di bawah harga produk ayam kampung yang dipelihara secara kampung 100%.

Yang disebut sebagai dipelihara secara kampung 100%, sebenarnya hanya menyangkut pakan dan pembesaran dengan cara diumbar dalam kandang ren yang cukup luas. Sementara pembenihannya tetap bisa menggunakan teknologi broiller. Sebab pembenihan dengan mengandalkan cara alami, tidak akan pernah mencapai populasi yang diinginkan oleh pasar. Sementara pembesaran dengan menggunakan poer dan dengan cara dikandangkan, akan menurunkan nilai daging ayam tersebut. Para pedagang ayam, pasti segera tahu apakah ayam kampung tersebut dipelihara secara alami denganpakan alami atau dengan pakan poer. Meskipun pada pembenihan bisa menggunakan teknologi broiller, namun induk betina tetap tidak boleh diberi pakan layer. Lebih-lebih diberi egg stimulant. Hingga pakan untuk induk jantan maupun betinanya hanyalah dedak, jagung, gabah, ampas tahu, hijauan dan untuk protein hewaninya bisa cacing, bekicot, belalang dll. atau tepung ikan. Pemberian pakan layer, lebih-lebih dengan egg stimulant, memang akan memacu produktivitas telur. Namun anak ayam yang dihasilkan akan benyak yang cacat atau daya tetasnya rendah. Induk-induk penghasil telur tetas ini dipelihara dalam kandang ren (sebagian beratap sebagian terbuka) dengan luas total minimal 3 X 6 m, dengan bagian yang beratap 2 m. Satu petak kandang berisi maksimal 9 induk betina dan 1 jago. Bagian yang beratap diberi tempat nangkring dan kotak untuk bertelur. Konstruksi kandang dari kayu dan bambu.

Dengan pakan bernutrisi cukup, produksi telur minimal 30 % per hari dari total populasi induk betina. Dengan jumlah induk 100 ekor, tiap hari harus ada 30 butir telur. Dari 30 butir telur tadi, yang memenuhi syarat untuk ditetaskan hanya sekitar 80 %. Umur telur untuk masuk ke mesin tetas, paling lama 1 minggu. Kapasitas mesin tetas berenergi listrik atau minyak tanah, disesuaikan dengan jumlah telur yang akan ditetaskan. Dengan produksi telur 30 butir dan layak tetas 80%, maka diperlukan 4 mesin tetas kapasitas 160 butir, atau 8 mesin tetas berkapasitas 80 butir. Kalau mesin tetas berenergi listrik PLN, diperlukan generator untuk cadangan apabila listrik PLN padam. Dari 160 butir telur per minggu atau 640 per bulan, akan dihasilkan minimal 125 ekor DOC per minggu atau 500 ekor per bulan. Untuk itu diperlukan kandang indukan berpemanas dengan dengan kapasitas 500 ekor DOC. Sebab kandang indukan akan diperlukan untuk jangka waktu 1 bulan. Indukan bisa berupa lampu minyak atau kompor batubara yang biasa digunakan dalam pemeliharaan broiller. Sampai dengan umur 1 minggu, anak ayam bisa diberi pakan starter buatan pabrik. Namun secara bertahap mereka harus diberi dedak, menir dan bahan pakan alami lainnya.

Setelah umur 2 bulan, anak ayam harus mulai ditaruh dalam lahan umbaran. Luas lahan umbaran minimal 500 m2 untuk 100 ekor ayam. Berarti dengan produksi 500 ekor per bulan dan dengan umur panen 6 bulan, maka populasi total ayam umbaran adalah 2.000 ekor. Luas lahan umbaran yang diperlukan, minimal 1 hektar. Hingga idealnya, pemeliharaan ayam kampung murni umbaran dengan pakan alami, digabung dengan penanaman jati, albisia dll. Pakan untuk ayam umbaran ini harus 100 % alami. Prosentase terbesar dari pakan alami ini adalah gabah dan jagung.Untuk menjaga agar ketersediaan pakan terjamin, maka harus ada gudang dan cadangan dana untuk stok pakan. Karena biasanya kekosongan jagung dan gabah akan terjadisekitar 3 bulan, maka stok pakan yang diperlukan untuk 2.000 ekor ayam mencapai 13,5 ton gabah atau jagung pipilan. Dengan harga sekitar Rp 1.000,- per kg. maka dana cadangan pakan yang diperlukan untuk jangka waktu 3 bulan mencapai Rp 13.500.000,- atau Rp 27.000.000,- untuk jangka waktu 6 bulan. Dengan investasi dan modal kerja sekitar Rp 30.000.000,- dana cadangan pakan Rp 27.000.000,- dan dana cadangan lukuiditas Rp 13.000.000,- maka total modal yang diperlukan untuk pemeliharaan ayam kampung skala induk 100 ekor adalah Rp 70.000.000,-

Persiapan yang diperlukan untuk "proyek" demikian akan memakan waktu paling cepat 3 bulan. Yakni mencari lahan, membangun kandang, mengebor sumur, mencari bibit ayam dll. Hingga operasi pemeliharaan baru akan berjalan paling cepat pada bulan IV. Sekitar 2 bulan kemudian, produksi telur baru akan normal. Hingga penetasan baru akan berlangsung pada bulan VI. Hingga praktis, penjualan panen perdana ayam kampung umur 6 bulan, baru akan terjadi setelah 1 tahun semenjak kegiatan awal dimulai. Dengan mortalitas 5 %, maka hasil ayam umur 6 bulan yang bisa dijual sekitar 475 ekor per bulan setelah satu tahun sejak start awal. Harga ayam kampung demikian, sekitar Rp 18.000,- per ekor hingga pendapatan kotor per bulan dari penjualan panen ayam Rp 8.550.000,- Pendapatan kotor ini belum memperhitungkan pendapatan dari penjualan telur afkir yang tidak layak tetas. Biaya pakan, tenaga kerja, listrik, penyusutan kandang dll. per bulan sekitar Rp 6.500.000,- Hingga pendapatan bersih (keuntungan) per bulan Rp 2.000.000,- atau Rp 24.000.000,- per tahun atau 34% dari total modal. Angka ini masih cukup baik kalau kita perhitungkan suku bunga pinjaman komersial sebesar 20% per tahun.

Dengan menggabung peternakan ayam kampung umbaran ini pada lahan tanaman jati, albisia atau kebun buah, maka sebenarnya banyak hal bisa dihemat. Misalnya tenaga kerja, sewa lahan, bangunan, listrik dan air. Selain itu, kotoran ayam juga akan menjadi pupuk pada tanaman keras pada lahan tersebut. Hal-hal yang perlu diperhitungkan dalam peternakan ayam kampung demikian adalah, lahan umbaran harus bersih dari karet gelang, plastik dan pecahan beling (botol, gelas dll) yang akan membahayakan keselamatan ayam. Pemeliharaan ayam kampung dengan teknologi broiler 100%, bisa menghasilkan ayam konsumsi bobot 6 sd. 7 ons pada umur 70 hari. Produk ini banyak diserap oleh restoran padang untuk bahan ayam pop. Sementara ayam goreng Ny. Suharti dll. mutlak mensyaratkan ayam kampung dengan sistem umbaran dan dengan pakan alami. Mereka akan segera tahu apakah ayam itu diumbar atau tidak dan diberi pakan poer atau gabah dan jagung. Sebenarnya beberapa kali Singapura dan Hongkong minta ayam kampung dari Indonesia. tetapi jangankan mereka, Jakarta pun sampai dengan saat ini masih kekurangan suplai ayam kampung umbaran. Bahkan akhir-akhir ini, Jepang juga menjajaki kemungkinan mendatangkan ayam kampung dari Indonesia. Persyaratan mereka lebih ketat. Benih mereka tentukan dan umbaran harus 100 %. Untuk itu mereka akan mengirim supervisor. Namun peternak Indonesia tampaknya kurang merespon hal-hal demikian ini.

source : foragri.blogsome.com
[ ... ]

Kamis, 08 April 2010

Meraup untung dari Ayam Kampung


Agrobisnis seperti sumur yang tak pernah kering. Ini bukan omong kosong.ketika industri lain ambruk diterjang badai krisis moneter, sektor ini terbukti tetap tegar. Benarkah ? bagi yang komponen lokalnya dominan, jawabannya : benar.

Dibidang peternakan, misalnya, usaha ayam ras(ayam pedaging) langsung terkapar ketika krisis berlangsung. Maklum ayam jenis ini banyak menelan dollar, mulai dari bibit, bahan baku pakan, obat-obatan hinggaperalatan.

Lain cerita kalau yang diternakan ayam kampung atau ayam buras(bukan ras) yang 100 % asli Indonesia. Menurut data Ditjen Peternakan, tahun 1998 populasi ayam kampung mengalami peningkatan sekitar 1 % dibanding tahun sebelumnya, jauh berbeda dengan ayam ras yang anjlok sampai 70 %.

Produksi telur ayam ras (leghorn) petelur misalnya bisa mencapai 300 butir setahun. Sementara ayam kampung yang dipelihara secara khusus paling banter hanya 100 butir telur. Begitu juga dengan ayam ras pedaging (broiler). Tubuhnya cepat bongsor, dalam 30 hari bisa mencapai 1 kg. Sementara ayam kampung membutuhkan 3 bulan untuk mencapai bobot hidup yang sama . Hanya saja harga daging dan telur ayam kampung lebih tinggi, itu kelebihannya.

Keuntungannya jelas

Bila serius keuntungan usaha penetasan ayam kampung ternyata cukup menggiurkan. Saat ini harga sebutir ayam kampung Rp 800. Sementara harga seekor anak ayam yang baru menetas atau biasa disebut DOC (Day Old Chick), sekitar Rp 2000 perekor, berarti kalau ditetaskan untungnya lebih dari 100 % ? memang besar.

Mencari telur

Pada dasarnya tidak sulit asal mau telaten. Sebab, telur bisa diperoleh di kampung-kampung. Pada pemeliharaan trdisional, umumnya setiap induk melakukan perkawinan dengan ayam pejantan. Sehingga telur yang dihasilkan merupakan telur yang bertunas atau yang bisa di tetaskan. Bisa juga melalui penjual jamu gendong, dipasar-pasar lokal juga mudah ditemukan.

Mesin penetas

Mesin tetas bisa didapat dengan dua cara. Jika punya uang bisa membeli mesin tetas sendiri. Harganya antara Rp 700 ribu hingga Rp 5 juta, tergantung daya tampungnya. Untuk alat yang satu ini, banyak yang dijual disekitar Tangerang.

Kalau mau menyewa bisa dicari sekitar Rawa Belong, Jakarta Barat. Akan lebih untung kalau memiliki mesin penetas sendiri dengan kapasitas yang besar. Selain dipakai sendiri, juga bisa disewakan.

Pemasaran

Tak usah bingung memasarkan anak ayam. Banyak jalannya. Antara lain melalui Koperasi Peternak ayam buras Jakarta. Atau bisa langsung bekerja sama dengan peternak ayam buras. Kalau belum puas dengan hasil anak ayam, bisnis ini bisa dikembangkan sebagai bisnis terpadu. Artinya, selain anak ayam, juga beternak ayam pedaging (broiler) dan telur.

Pakan Di buat sendiri

Siapa yang tak ingin usahanya berkembang. Untuk itu, ada baiknya seorang peternak juga menguasai pembuatan pakan. Sejak krisis berlanjut, tidak sedikit pengusaha peternakan, baik ayam pedaging maupun petelur, yang gulung tikar. Penyebabnya ya, karena sebagian besar bahan bakunya mengandalkan impor. Sementara pakan dari bahan baku lokal yang sebenarnya dari sisi kualitas tidak kalah, masih jarang dilirik peternak.

Dari pada buang duit untuk membeli bahan pakan ternak ada baiknya mempelajari kiat membuat pakan sendiri seperti yang disajikan dibawah ini. (Tabel I & II).

Pola usaha ini sudah dujalani Ekok Wakradiharjo, peternak ayam kampung yang bermukim di Jagarkarsa, Jakarta Selatan. Dengan menggunakan pakan lokal ia mampu memetik penghasilan lumayan besar.

Dari 1000 ekor ternaknya, minimal setiap bulan mengantungi keuntungan Rp. 1,4 juta. Itu baru dari hasil penjualan ayam kampung pedaging. Jadi belum termasuk telur, ayam afkiran dan kotoran ayam yang belakangan ini jadi rebutan petani karena harga pupuk kimia sangat mahal.



Analisis Keuntungan
Usaha Ayam Kampung Pedaging
Per 1.000 ekor
per 3 bulan

A. Investasi

Kandang dgn biaya perekor @ Rp. 7.000 Rp. 7.000.000.

B. Biaya Lancar

DOC 1.000 ekor @ Rp. 1.800 Rp. 1.800.000.

Pakan

a. Starter1 1000 kg @ Rp. 1.824,5/kg Rp. 1.824.500.

b. Starter2 1500 kg @ Rp. 1.657,5/kg Rp. 2.486.250.

Vaksin dan jamu 1000 ekor x Rp. 150 x 2 Rp. 300.000.

Listrik Rp. 100.000 x 3 = Rp. 300.000.

Kematian Ternak 10% Rp. 180.000.

Penyusutan Kandang (usia 4 tahun) Rp. 145.830.

Total Biaya Rp. 7.036.580.

C. Pendapatan

Ayam ukuran 0,9 kg @ Rp. 14.000/kg x 900 ekor (mati 10%) Rp. 11.340.000.

D. Analisis Keuntungan

Keuntungan bersih = Pendapatan - Biaya Lancar = Rp. 4.303.420

Catatan :

Pakan untuk starter 1 digunakan dari umur 0 hari sampai 4 minggu. Selanjutnya gunakan starter 2 hingga panen sekitar umur 3 bulan. Pada saat tersebut bobot hidup sekitar 0,9 kg/ekor

Ciri umum bibit unggul
* Bagian tubuh tak ada yang rusak atau cacat. Misalnya kaki utuh dan leher lurus. Otot kempal dan kuat terutama dibagian paha dan dada. Tulangnya juga kuat
* Susunan bulu teratur,saling meng- himpit dan tampak mengkilat. Kondisi bulu yang baik tersebut mencerminkan keadaan kulit yang baik pula.
* Mata cerah dan pandangannya tampak tajam.
* Gerakannya gesit yaitu mudah berontak bila dipegang.
* Ukuran badannya sedang, tidak kurus dan tidak gemuk.
* Induk jantan mempunya jengger yang berwarna merah cerah, kepala tampak kokoh,paruh pendek,tajam dan kuat. Selain itu, keturunannya bukan berasal berasal dari anak induk betina.
* Jarak ujung tulang dada dengan cloaca(dubur) berjarak minimal 3 jari tangan

Analisis Keuntungan

TELUR TETAS


Biaya Lancar :


1. Membeli telur tetas 500 butir x Rp 800 = Rp 400.000
2. Sewa mesin tetas 500 butir x Rp 100 = Rp 50.000
3. Biaya lain-lain = Rp 50.000
4. Total Biaya Lancar= Rp 500.000

Pendapatan :

1. 500 butir x 80 % x 2000 = Rp. 800.000

Keuntungan :


1. Rp 800.000 – Rp 500.000 = Rp. 300.000


source : wirausaha.itgo.com
[ ... ]

INTENSIFIKASI TERNAK AYAM BURAS


Perkembangan ayam buras (bukan ras) atau lebih dikenal dengan sebutan
ayam kampung di Indonesia berkembang pesat dan telah banyak dipelihara
oleh peternak-peternak maupun masyarakat umum sebagai usaha untuk
pemanfaatan pekarangan, pemenuhan gizi keluarga serta meningkatkan
pendapatan.
Dikarenakan dengan pemeliharaan sistem tradisional, produksi telur ayam
buras sangat rendah, ± 60 butir/tahun/ekor. Berat badan pejantan tak lebih dari
1,9 kg dan betina ± 1,2 ~ 1,5 kg, maka perlu diintensifkan. Pemeliharaan yang
intensif pada ayam buras, dapat meningkatkan produksi telur dan daging, dapat
mencegah wabah penyakit dan memudahkan tata laksana.
Sistem pemeliharaan ayam buras meliputi : bibit, pemeliharaan, perkandangan,
pakan dan pencegahan penyakit.

Artikel selengkapnya dapat didownload DISINI ............
[ ... ]

PAKAN AYAM BURAS

Sampai saat ini ayam buras masih mempunyai peranan yang penting dalam
memenuhi kebutuhan daging dan telur. Bagi pemiliknya ayam buras merupakan sumber
penghasilan atau tabungan hidup yang sewaktu-waktu dapat diuangkan. Bagi konsumen,
ayam buras masih banyak dicari karena ciri khas rasa daging dan telurnya sebagai
campuran jamu tradisional yang tidak boleh ditinggalkan. Usahatani ternak ayam buras
banyak dilakukan oleh masyarakat DKI Jakarta, baik yang bersifat sambilan ataupun yang benar-benar ditekuni sebagai mata pencaharian. Produktivitas lahan dapat dicapai secara maksimal, karena meskipun lahan sempit tetapi bisa beternak dengan populasi tinggi.

Hal ini dimungkinkan dengan penggunaan kandang baterai (bertingkat) dan pemberian pakan yang memadai. Pada pemeliharaan dengan sistem ayam dikandangkan (intensif)
penyediaan pakan tergantung pada peternaknya. Ini artinya bahwa peternak menyediakan
seluruh kebutuhan pakan baik jumlah maupun mutunya sehingga mencukupi kebutuhan
gizi ayam buras. Dengan demikian ayam buras akan dapat berproduksi lebih baik.
Dalam usaha ternak ayam buras biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan pakan
paling besar yakni (60-80%) dari seluruh komponen biaya produksi yang dikeluarkan.
Untuk menghemat biaya ransum dapat disusun sendiri oleh peternak dari bahan-bahan
pakan yang mudah didapat disekitar kita, murah harganya tetapi memenuhi kebutuhan
gizinya. Bioteknologi yang terus berkembang menghasilkan sejenis probiotik yang berasal dari mikroba rumen. Probiotik ini berfungsi untuk memecahkan selulosa, hemiselulosa, lignin protein serta lemak sehingga ransum yang dikonsumsi lebih mudah diserap oleh usus. Disamping itu bau kotorannya menjadi berkurang. Hal ini cocok dengan kondisi wilayah DKI Jakarta dimana peternak berlokasi didaerah padat penduduk.

Untuk membaca artikel lengkap, silakan download filenya DISINI........
[ ... ]

MEMELIHARA AYAM KAMPUNG

MANFAAT MEMELIHARA AYAM KAMPUNG


Bagi masyarakat Indonesia, ayam kampung sudah bukan hal asing. Sejak kecil kita setiap hari bisa melihatnya. Walau saat ini ayam kampung dikota-kota besar sudah jarang terlihat berkeliaran bebas, bukan berarti keberadaannya punah. Di pinggiran kota masih banyak orang memelihara ayam kampung. Baik dibudidayakan secara sungguh-sungguh maupun hanya sekedar peliharaan untuk memanfaatkan sisa-sisa makanan yang eman-eman kalau dibuang begitu saja.

Ayam kampung mempunyai nilai gizi yang baik. Selain itu juga mempunyai rasa yang lebih khas dan nikmat dibanding dengan jenis ayam pedaging maupun petelur. Serat yang liat dan kenyal menjadi ciri utamaya. Bahkan setiap lebaran ayam kampung identik dengan makanan yang harus diada-adakan.

Ayam kampung mempunyai keistimewaan dibanding yang lain, diantaranya : Ayam kampung lebih tahan terhadap penyakit. Tahan dan mudah menyesuaikan dengan cuaca di Indonesia. Makanannya mudah, bahkan bila di pelihara ala kadarnya cukup diberi makanan sisa-sisa. Dapat dilepas secara bebas.

Tujuan utama orang memlihara ayam kampung adalah untuk diambil telur, daging, dan untuk dikembang biakkan. Ayam kampung juga siap membesarkan anak-anaknya sendiri bila dilepas bebas.

Ada dua cara memelihara ayam kampung, yaitu dipelihara dengan dilepas bebas atau istilahnya diliarkan dan yang kedua dibudidayakan. Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Ayam kampung yang dilepas bebas biasanya mempunyai tingkat kekebalan yang tinggi. Kita bisa menghemat biaya makanan. Karena ayam cukup diberi makan pagi hari saat akan dilepas berupa sisa-sisa makanan dan tambahan bekatul secukupnya. Selebihnya ayam akan mencari makan sendiri disekitar rumah. Namun cara ini juga ada kelemahannya. Ayam lambat untuk berkembang lebih banyak, karena tingkat kematian pada anak ayam relatif lebih tinggi. Waktu mengasuh terlalu lama yang berarti mengurangi produktifitas. Kita kurang bisa mengontrol keberadaan ayam. Sehingga kemungkinan dimangsa predator maupun hilang lebih tinggi.

Sedang bila kita membudidayakan dengan cara dikandangkan tentu lebih banyak keunggulanya. Walau tentu masih juga ada kekurangannya.

Ayam yang dikandangkan lebih mudah dikontrol keberadaannya. Kita bisa mempercepat populasinya dengan cara setiap ayam yang bertelur kita ambil dan kumpulkan untuk ditetaskan secara bersama dalam satu indukan atau mesin penetas. Anak ayam tidak harus ikt induknya. Namun dapat dipisah dan ditempatkan dengan pemberian panas cahaya listrik (untuk penghangat) dan makanan yang sesuai.

source : tumbuh.wordpress.com
[ ... ]

CARA MEMELIHARA ANAK AYAM KAMPUNG

CARA MEMELIHARA ANAK AYAM KAMPUNG

Menambah penghasilan sampingan buat keluarga




Ayam kampung saat lebaran seperti ini bak emas yang diburu setiap keluarga. Karena sudah lazim dinegeri ini, lebaran akan terasa hambar bila tidak ada hidangan opor ayam sebagai pendamping ketupat dan lontong. Maka jangan heran bila saat ini seekor ayam jago yang besar bisa mencapai harga sampai Rp. 150.000. Hal ini karena permintaan yang banyak sementara ketersediaan ayam kampung terbatas.

Apakah anda tidak tertarik untuk menernakkan sendiri ayam kampung ?. Yah hitung-hitung buat persaiapan lebaran mendatang dan sekaligus agar sisa-sisa makanan kita tidak terbuang sia-sia karena masih bisa dimanfaatkan untuk pakan ayam-ayam kita tersebut.

Untuk tulisan kali sengaja kami suguhkan Trik dan cara memelihara anak ayam kampung secara sederhana.

Untuk persiapan belilah indukan ayam yang sehat dan berbadan bongsor. Minimal persiapkan dua ekor ayam betina dan seekor pejantan. Bila disekitar anda sudah banyak tetangga yang memelihara ayam, anda tidak memerlukan ayam pejantan. Kecuali bila menginginkan peranakan yang akan menetas nanti adalah ayam dengan bibit yang unggul, maka mutlak harus dipih selain betina unggul juga pejantan yang unggul dalam arti sehat, masih muda, berbulu mengkilap bagus dan bersih dan terakhir berbadan bongsor.

Setelah melalui proses kawin, bertelur dan menetas ada dua cara yang bisa dipilih, anak ayam diliarkan dan dibiarkan diasuh oleh induknya dengan pakan ala kadarnya dari sisa-sisa dapur kita dan selanjutnya induk ayam akan mengajak anak-anaknya mencari makan disekitar kita, atau kita pelihara dengan cara memisahkan dari induknya.

Dengan memisahkan dari induknya akan mendapat hasil yang lebih cepat. Karena induk ayam tidak harus mengasuh sampai berbulan-bulan.

Induk ayam akan segera kawin dan bertelur kembali dan tentunya akan segera menetas kembali.

Dibawah ini adalah cara-cara beternak dengan cara memisahkan anaka ayam dari induknya yang kami anjurkan dengan harapan hasil yang diperoleh akan lebih maksimal disbanding diliarkan.



PERSIAPAN

Setelah anak ayam menetas, biarkan induknya mengerami sampai berumur 4 – 6 hari atau induk ayam mengajak keluar dari tarangan/ tempat mengeram , karena masa-masa ini anak ayam sangat rentan mati.

Pisahkan anak ayam dari induknya. Ambil anak ayam dan masukkan ke dalam kandang secara hati-hati agar tidak terjadi cidera pada kaki ayam

KANDANG

Kandang anak ayam terbuat dari kotak kayu. Untuk ­+ 10 ekor anak ayam buatlah kandang ukuran + 1 m2. Kandang harus mempunyai lobang sirkulasi udara, agar saat siang hari sirkulasi udara bisa keluar masuk secara sempurna.

Pada alas kandang baik pula bila dikasih berambut (kulit padi) atau serutan kayu yang agak halus. Beri penutup agar tidak kehujanan. Usahakan agar kandang dalam keadaan kering dan bersih serta udara lancer keluar masuk.

Lubang sirkulasi udara harus lancar. Usahakan agar lubang-lubang tersebut tidak terlalu lebar dan aman tidak dimasuki predator seperti kucing, garangan, luwak tikus dan sebagainya

Sebagai penghangat tubuh pada malam hari agar anak ayam tidak mati kedinginan, mutlak disediakan penghangat berupa lampu 40 – 60W didalam kandang. Dengan adanya lampu tersebut, anak ayam akan mencari sendiri tempat yang paling nyaman dan hangat sesuai kebutuhan.

PAKAN

Makanan anak ayam pada minggu-minggu pertama adalah pakan jenis awal / permulaan yang dapat dibeli toko-toko makanan ayam. Bila anda kesulitan mencarinya, anda bisa membeli makanan ayam di toko makanan burung berupa makanan jadi/ voor untuk anak ayam (biasanya penjual sudah tahu). Makan tersebut harus terjamin kesediaanya sampai anak ayam berusia 1-2 bulan.

Sediakan makanan dibeberapa tempat, agar ayam bisa makan sewaktu-waktu tanpa berebutan. Usahakan makanan tidak terlalu penuh dalam satu wadah untuk menghindari diacak-acak dan tidak terinjak-injak. Ketersediaan air juga sangat penting. Untuk satu kandang cukup sediakan 1-2 tempat yang bisa dibeli di toko penjual makanan ayam atau burung.

Cek keadaan anak ayam setiap saat agar tidak mati karena kurang nyaman. Biasanya kalau tempat kurang nyaman atau lapar anak ayam akan menciak keras dan tak beraturan. Cek kelembaban kandang, kepanasan atau kedinginan, makanan, ataupun sirkulasi udara, apakah sudah nyaman atau belum. Bila anak ayam tenang dan bersuara / menciak dengan suara yang beraturan pertanda anak ayam nyaman dalam kandang.

source : tumbuh.wordpress.com
[ ... ]

PAKAN CAMPURAN UNTUK AYAM BURAS


1. KELUARAN
Pakan cukup gizi dan disukai ayam buras
2. BAHAN DAN ALAT
Bahan pakan yang mudah didapat
3. PEDOMAN TEKNIS
1) Penyusunan ransum anak ayam
Susunan ransum anak ayam untuk 100 kg adalah sebagai berikut :
a. jagung giling 43 kg, dedak halus 35 kg, bungkil kedelai 10 kg,
b. tepung ikan 8,5 kg, kalsium karbonat 3,5 kg, garam 0,1 kg dan
c. premix A 0,4 kg.
d. Kandungan zat-zat nutrisi tersebut diatas adalah protein kasar 19,4% dan
energi metabolis 2537 kkal/kg.
2) Susunan ransum ayam buras periode produksi
Ransum campuran yang terdiri dari 3 bagian pakan komersil, 6 bagian dedak
halus dan 4 bagian jagung giling ditambah grit dan vitamin B-12 (sistem
intensif)
3) Susunan ransum ayam dara umur 12-20 minggu
Ada 4 jenis ransum ayam buras. Salah satunya adalah jagung giling 41 kg,
dedak halus 53 kg, tepung ikan 2 kg, bungkil kedelai 0,9 kg, tepung tulang
0,8 kg, kalsium karbonat 1,75 kg, premix A 0,25 kg, garam 0,2 kg dan lisin
0,1 kg. Kandungan zat nutrisi ransum ayam dara adalah sebagai berikut :
protein kasar 10-14%, energi metabolis 2700 kkal/kg ransum.
4) Susunan ransum ayam betina dewasa
Susunan ransum ayam betina dewasa untuk 100 kg adalah sebagai berikut :
a. jagung giling 28,2 kg, dedak halus 58,5 kg, tepung ikan 6,3 kg, kalsium
b. karbonat 6,5 kg, garam 0,2 kg dan premix A 0,3 kg. Kandungan zat nutrisi
tersebut diatas adalah protein kasar 15% dan energi metabolis 2312
kkal/kg.
5) Cara pencampuran sebaiknya dilakukan secara bertahap. Pencampuran
dilakukan untuk kebutuhan satu minggu untuk menghindari makanan
berjamur.
6) Cara pemberian untuk ayam muda - dewasa dilakukan 2 kali sehari (pagi
dan sore) berkisar 70-100 gram/ekor/hari. Untuk anak ayam umur 1 hari-12
minggu ransum dan air harus tersedia setiap saat dan tidak terbatas
jumlahnya. Hindari pemberian ransum yang berlebihan agar ransum tidak
terbuang dan berjamur.
4. SUMBER
Departemen Pertanian, http://www.deptan.go.id, Maret 2001
5. KONTAK HUBUNGAN
Departemen Pertanian RI, Kantor Pusat Departemen Pertanian - Jalan Harsono
RM No. 3, Ragunan - Pasar Minggu, Jakarta 12550 - Indonesia

source : niaga.pusri.co.id
[ ... ]

BETERNAK AYAM ORGANIK


Mengatasi krisis moneter saat ini, dimana nilai pendapatan dari
gaji bulanan yang tidak lagi memenuhi kebutuhan sehari-hari
dikarenakan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, banyak
orang membuat kegiatan sebagai usaha sampingan dalam menambah
penghasilan.

Beberapa usaha yang dilakukan mulai dari bertani,
beternak, dan bahkan usaha bisnis lain.
Untuk usaha keluarga dalam beternak, banyak orang memilih ayam sebagai
usahanya, karena sistem beternak ayam lebih sederhana dan mudah tanpa
menguras waktu dan tenaga yang banyak baik dalam pemeliharaan dan
pemberian pakan.
Syarat pokok dalam mengusahakan ternak ayam :
1. Penguasaan ilmu.
•Breeding, menyangkut pemilihan dan penggunaan bibit unggul
ditingkat final stock serta strain tertentu.
•Feeding, menyangkut penyediaan dan pemberian ransum.
•Management, menyangkut tata laksana perkandangan, perawatan,
pamasaran dll.
•Disease management, menyangkut sanitasi, vaksinasi, dll.
2. Kepemilikan jiwa peternak.
•Ketekunan, menumbuhkan rasa cinta kasih besar terhadap ternak.
•Disiplin, menumbuhkan tanggungjawab terhadap hidup matinya ayam.
•Tidak mudah putus asa, kesabaran dalam menanggulangi kesulitan
ekonomis maupun teknis.
Produksi ternak dipengaruhi oleh dua faktor :
1. Faktor genetis. Ini menyangkut keturunan yang akan mempengaruhi
selanjutnya terhadap tinggi rendahnya produksi.
2. Faktor luar. Adapun faktor luar yang mempengaruhi antara lain : tata
laksana, perkandangan, makanan, lingkungan, dan penyakit.
Ada dua (2) jenis ayam yang biasa diternakkan selain ayam kampung :
1. Ayam pedaging (Broiler).
2. Ayam petelur (layer).
Pemeliharaan ayam :
1. Fase awal
Brooder yang baik
Alat-alat pemanas yang stabil
Konstruksi indukan yang baik

Konstruksi Brooder yang baik :
Lantai mudah dibersihkan.
Tinggi tempat makan dan minum 2,5 cm diatas punggung ayam.
Ukuran tempat makan, panjang 1,5 cm (ayam umur 1-2 minggu) dan 5
cm (ayam umur 2-8 minggu), lebar 8 cm, dalam 6 cm.
Ukuran tempat minum, separoh dari tempat makan.
Ukuran brooder, 15-20 ekor/m2 (umur 1 hari-8 minggu), 10-15 ekor/m2
(umur 8-22 minggu), 4-6 ekor/m2 (umur lebih dari 22 minggu).
2. Fase pertumbuhan
Populasi hunian 5-10 ekor/m2 .
Pemberian makanan sebaiknya 2 kali sehari.
Kadar protein pada ransum 14-16%.
3. Fase Bertelur
Untuk ayam petelur, pada umur 5,5-6 bulan ayam sudah bertelur.
Makanan, protein disarankan kira-kira 17 %.
Pada wal bertelur supaya diberi feed suplement atau extra vitamin.
Kandang dengan popoulasi 4-5 ekor/m2, tebal lantai 25-30 cm,
sarang perteluran 35 x 35 x 40 cm/5 ekor.
Produktifitas telur, perlu pengaturan kadar protein dalam ransum,
pemberantasan cacing dan kutu ayam secra regular, penyediaan air minum
yang bersih dan memadai.
Syarat kandang ayam yang bagus :
a. Mempunyai ventilasi udara.
b. Terkena sinar matahari.
c. Lantai terbuat dari tanah, semen, dengan dialasi dengan serbuk
gergaji atau sekam padi.
d. Mempunyai tempat makanan dan minuman.
e. Mempunyai tempat bertengger.
Makanan, Fungsi :
Memenuhi kebutuhan hidup.
Membentuk sel dan jaringan hidup.
Menggantikan sel yang rusak.
Bahan untuk berproduksi.
Yang mutlak diperhatikan terutama zat-zat makanan :
1. Karbohidrat, sebagai sumber energi untuk mobilitas tubuh ayam, dan
resistensi terhadap pengaruh lingkungan. Sumber : jagung dan beras.
2. Lemak, sebagai sumber energi dan alat transportasi buat vitamin A,
D, E, dan K. Sumber : Kacang tanah, dedak halus, kedelai, bungkil
kelapa, tepung ikan, tepung daging, dsb.
3. Protein, untuk pertumbuhan tulang, urat, daging, kulit, bulu, dan
menggantikan jaringan-jaringan tubuh yang rusak. Sumber : tepung

daging, tepung darah, tepung ikan, susu, bekicot, siput, cacing dll
(hewani); kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, kacang
panjang, bungkil kelapa dll (nabati).
4. Mineral, untuk alat berproduksi, seperti : kalsium (pembentukan
tulang dan kulit telur), natrium (darah), HCl (getah lambung), Fe
(butir darah merah), yodium (kelenjar gondok) dll. Sumber : tepung
tulang, tepung kerang, kapur dsb.
5. Vitamin, mempertahankan kesehatan tubuh dan kemampuan berproduksi.
Sumber : minyak ikan, susu, hati (vitamin A); jagung, katul, kacangkacangan
(vitamin B1); jagung, beras, daunan hijau (vitamin B2);
padi-padian, ikan ragi, hijauan (vitamin B6), kotoran lembu/kerbau
(vitamin B12), minyak ikan, susu, kacang-kacangan (vitamin D);
touge, hijauan, padi-padian (vitamin E), dll.
Air, fungsinya :
Membantu proses pencernaan.
Membawa zat makanan ke seluruh tubuh.
Mengatur suhu tubuh dan metabolisme.
Pembuangan sisa makanan.
Lebih dari 60 % tubuh ayam terdiri dari kandungan air. Ayam selalu
minum setiap 15-20 menit.
Energy Tambahan
1. Antibiotic, fungsi untuk menstimulir pertumbuhan, mencegah penyakit,
dan efisiensi setiap perubahan ransum. Sumber : penicillin,
terramycin, exythromycin, dll.
2. Feed Suplement, fungsi untuk mencegah penularan penyakit,
mempercepat pertumbuhan, meningkatkan produksi, dll. Sumber : Premix
B, Premix A, TM 10, Egg Formula, Rovimix AD3, Mineral, dll.
3. Concentrate, campuran bahan makanan yang dilengkapi dengan :
protein, carbohydrat, lemak, dan zat kasar lainnya. Concentrate
complit terdiri dari protein, mineral, dan vitamin.
4. Hijauan, fungsi untuk menambah nafsu makan dan tambahan vitamin.
Sumber : daun-daunan berwarna hijau yang segar.
Pakan ayam pedaging (broiler)
Bahan-bahan :
Konsentrat 20 %.
Dedak 35 %.
Jagung giling 25 %.
Bungkil Kelapa 20 %.
Pakan ayam petelur (layer)
Bahan-bahan :
Konsentrat 25 %.
Dedak 35 %.
Jagung giling 40 %.
Mineral 0,1 %.

Source : marwah-peternakan.blogspot.com
[ ... ]
 

©2009 Central Unggas Lampung | by TNB Modified By Anangss and By Nanang